Navigasi Menu Utama Portal

Sejarah Desa Balongbesuk - Mojosongo

Dipublikasi

16 Juni 2026

5 Dilihat
Sejarah Desa Balongbesuk - Mojosongo

Klik untuk memperbesar gambar

Sejarah Dusun Mojosongo

(Rangkuman Buku "Kronika Jombangan")

Dusun Mojosongo merupakan salah satu dusun tua di Desa Balongbesuk yang menyimpan kekayaan sejarah, tradisi, dan warisan budaya yang masih hidup dalam ingatan masyarakat. Keberadaan dusun ini tidak hanya tercatat dalam dokumen kolonial, tetapi juga dalam berbagai cerita turun-temurun yang diwariskan oleh para sesepuh.

Asal-Usul Nama Mojosongo

Nama Mojosongo dipercaya berasal dari kata mojo (buah atau pohon maja) dan songo (sembilan). Menurut cerita masyarakat, dahulu terdapat sembilan pohon mojo yang menjadi penanda wilayah tersebut. Meskipun lokasi pasti pohon-pohon itu tidak lagi diketahui, nama tersebut tetap bertahan hingga sekarang sebagai identitas dusun.

Menariknya, nama Mojosongo juga ditemukan di beberapa daerah lain di Jawa, seperti Surakarta dan Boyolali. Hal ini memunculkan dugaan bahwa nama tersebut memiliki hubungan dengan pola penamaan wilayah pada masa kerajaan-kerajaan Jawa, meskipun belum ditemukan bukti tertulis yang memastikan asal-usulnya.

Tokoh-Tokoh Awal Mojosongo

Masyarakat meyakini bahwa penghuni pertama Mojosongo adalah Mbah Ngadimo dan Nyai Dasimah. Keduanya dianggap sebagai perintis permukiman yang kemudian berkembang menjadi dusun.

Tokoh penting lainnya adalah Mbah Dalang, yang menjadi figur sentral dalam sejarah lokal Mojosongo. Menurut berbagai versi cerita, Mbah Dalang adalah seorang pengelana, seniman, sekaligus penyebar agama Islam yang menggunakan kesenian Jawa sebagai sarana dakwah. Ada yang menyebut beliau datang bersama kelompok kesenian gamelan, ada pula yang menyebut beliau sebagai dalang wayang yang terkenal hingga wilayah sekitar.

Walaupun kisah hidupnya memiliki banyak versi, semua cerita sepakat bahwa Mbah Dalang menghabiskan akhir hidupnya dan dimakamkan di Mojosongo. Karena itu, makam beliau menjadi salah satu situs yang dihormati masyarakat.

Kisah Perjalanan dan Wafatnya Mbah Dalang

Tradisi lisan menyebutkan bahwa rombongan Mbah Dalang pernah mengalami perampokan ketika berada di Mojosongo. Alat musik mereka dirampas dan beberapa pengikutnya meninggal dunia. Ada pula versi cerita yang menghubungkan kematiannya dengan masa kolonial Belanda.

Perbedaan versi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar sejarah Mbah Dalang masih hidup dalam bentuk tradisi tutur. Namun bagi masyarakat Mojosongo, yang terpenting bukanlah bagaimana beliau wafat, melainkan jasa dan keberadaan makamnya yang menjadi bagian dari identitas dusun.

Pemerintahan Desa pada Masa Kolonial

Sejarah Mojosongo juga berkaitan dengan tokoh-tokoh pemerintahan desa pada masa Hindia Belanda.

Mbah Taliyudo, yang berasal dari Cipir (Kedungpring, Kabuh), disebut sebagai kepala desa pertama berdasarkan silsilah keluarga yang disahkan pada tahun 1993. Lokasi makamnya hingga kini masih menjadi bahan penelusuran.

Setelah itu terdapat Mbah Usman, yang dikenal sebagai kepala desa ketiga dan dimakamkan di Mojosongo bersama istrinya.

Keberadaan tokoh-tokoh tersebut menunjukkan bahwa Mojosongo telah menjadi bagian dari struktur pemerintahan desa sejak masa kolonial.

Makam-Makam Kuno dan Jejak Berbagai Zaman

Penelusuran sejarah yang dilakukan oleh para pemerhati budaya menemukan berbagai makam tua yang diyakini berkaitan dengan tokoh-tokoh dari berbagai periode sejarah Jawa.

Beberapa nama yang disebut antara lain:

  • Mbah Mahori, tokoh yang dikaitkan dengan masa Kesultanan Demak dan pengelolaan pertanian.
  • Mbah Sumogito, yang dipercaya mengatur pembagian tanah.
  • Raden Sentika, yang disebut sebagai keturunan Raden Patah dan penyebar Islam di Mojosongo.
  • Mbah Wirasarito, yang dikaitkan dengan masa transisi Majapahit menuju Demak.
  • Nyai Dewi Serunti (Sekar Alit), yang disebut sebagai tokoh perempuan dari lingkungan keraton.
  • Arya Sarantaka, yang dikaitkan dengan masa Prabu Wirabhumi.
  • Mbah Tungga Srono, komandan laskar pada masa Mataram.
  • Adinegara, penyampai informasi atau telik sandi.
  • Mbah Wangsadipura, pengikut perjuangan Pangeran Diponegoro.
  • Atmagati, pengelola persenjataan.
  • Kertaaji, pengatur logistik pasukan.
  • Putri Senggi Arimbi, yang dikaitkan dengan masa Kerajaan Daha (Kediri).

Keberadaan nama-nama tersebut menggambarkan keyakinan masyarakat bahwa Mojosongo pernah menjadi tempat persinggahan, pemukiman, atau wilayah yang memiliki hubungan dengan berbagai periode penting sejarah Jawa.

Antara Sejarah dan Tradisi Spiritual

Perlu dipahami bahwa sebagian besar identifikasi tokoh-tokoh tersebut diperoleh melalui pendekatan spiritual dan penuturan masyarakat, bukan melalui penelitian arkeologi atau kajian akademik yang telah diverifikasi.

Beberapa pemerhati sejarah bahkan mengingatkan bahwa bentuk nisan kuno yang ditemukan di Mojosongo lebih menunjukkan pengaruh budaya Surabaya dan kawasan Pantura Jawa Timur. Oleh karena itu, hubungan langsung dengan tokoh-tokoh dari era Demak atau Majapahit masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Meski demikian, tradisi lokal tetap menjadi sumber penting dalam memahami identitas dan memori kolektif masyarakat Mojosongo.

Mojosongo dalam Catatan Sejarah Tertulis

Selain tradisi lisan, terdapat bukti sejarah yang lebih kuat mengenai keberadaan Mojosongo.

Nama dusun ini sudah tercantum dalam peta kolonial tahun 1884, yang menunjukkan bahwa Mojosongo telah menjadi permukiman yang dikenal pada akhir abad ke-19.

Pada masa itu juga terdapat jalur kereta api yang melintas di wilayah Mojosongo. Jalur tersebut membentang dari kawasan Gerdu Papak (Parimono) menuju arah Blimbing (Gudo).

Sebuah surat kabar Belanda, Bataviaasch Nieuwsblad tahun 1896, bahkan pernah memberitakan bahwa rel kereta di wilayah tersebut berada terlalu dekat dengan rumah penduduk sehingga dianggap berbahaya.

Fakta ini menunjukkan bahwa Mojosongo telah terhubung dengan jaringan transportasi modern sejak masa kolonial.

Tradisi Suroan sebagai Upaya Merawat Sejarah

Sejak beberapa tahun terakhir, masyarakat Mojosongo menyelenggarakan Suroan Mojosongo sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan sejarah dusun.

Tradisi ini tidak hanya berisi doa bersama, tahlil, dan makan tumpeng, tetapi juga menjadi forum untuk menggali kembali sejarah lokal melalui diskusi bersama tokoh masyarakat, juru kunci makam, budayawan, dan sesepuh desa.

Melalui kegiatan ini, warga diajak mengenal kembali tokoh-tokoh pendahulu, makam-makam kuno, serta perjalanan panjang dusun dari masa ke masa.

Kesimpulan

Dusun Mojosongo merupakan kawasan bersejarah yang telah tercatat setidaknya sejak tahun 1884. Sejarahnya tersusun dari perpaduan antara fakta dokumenter, tradisi lisan masyarakat, situs makam kuno, dan peninggalan masa kolonial. Tokoh-tokoh seperti Mbah Dalang, Mbah Taliyudo, dan Mbah Usman menjadi bagian penting dari memori kolektif warga Mojosongo.

Walaupun sebagian kisah masih memerlukan penelitian akademik lebih lanjut, keberadaan peta kolonial, dokumen Hindia-Belanda, serta situs-situs makam kuno menunjukkan bahwa Mojosongo bukan sekadar sebuah dusun, melainkan salah satu simpul sejarah lokal yang penting di wilayah Jombang.

Sumber

  1. Hari Prasetia, Ketika Suroan Menemukan Modjosongo (2025).
  2. Nanang, dkk. Sejarah dan Budaya Jombang. Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang, 2015. (tercantum dalam daftar pustaka dokumen)
  3. H.G. Bartelds, De Kediri Stoomtram Maatschappij, Bataviaasch Nieuwsblad, 30 Oktober 1896.
  4. F.N.K. Zaalberg, Nederlandsch Indie, Bataviaasch Nieuwsblad, 28 Agustus 1908.
  5. Onveiligheid te Djombang, Deli Courant, 13 September 1909.

Catatan penting: Bagian mengenai tokoh-tokoh era Majapahit, Demak, Kediri, Mataram, dan Perang Diponegoro dalam artikel ini merupakan tradisi lisan dan hasil penelusuran spiritual yang disebutkan dalam dokumen sumber. Informasi tersebut belum dapat dianggap sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi secara akademik.

Dokumen Digital

Sejarah Desa Balongbesuk - Mojosongo

Unduh Lampiran

Interaksi Sosial

Bagikan Informasi Ini.

Diskusi Publik.

Sampaikan aspirasi atau pertanyaan Anda di bawah ini.